Hai pengguna internet dimana pun kalian berada, udah lama
banget gue gak ngeblog nih. Saking lamanya gak ngeblog, pas gue buka blog, udah
penuh sarang laba-laba ini blog. Haha. Jayus banget gue.
By the way anaway busway akhir-akhir ini gue lagi penuh
kesibukan, selain sibuk menangisi
kepergian mantan, gue juga sibuk kuliah. Maklum setelah lulus dari SMK gue
ngelanjutin kuliah. Gue kuliah di Universitas Mulawarman Fakultas Ilmu sosial
dan Ilmu politik. Niatnya gue pengen kuliah di pulau jawa tapi karena berbagai
faktor khususnya faktor otak yang gak mendukung untuk bersaing alhasil
gue kuliah di kota kelahiran sendiri yaitu Samarinda.
Berhubung sekarang
gue masih bisa dianggap sebagai maba yaitu singkatan dari mahasiswa banci
mahasiswa baru, gue pengen nge-share atau bisa dibilang curhat tentang bagaimana gue
bisa keterima di Universitas Mulawarman.
=====
Bunyi ayam berkokok membangunkan gue di pagi hari, gue
langsung mandi dan bersiap untuk tes penerimaan mahasiswa. Gue ikut tes
gelombang kedua atau SBMPTN (seleksi bersama masuk perguruan tinggi negri). Awalnya gue
mau ikut tes gelombang pertama atau SNMPTN yang jalur nilai tapi gue telat
daftarnya padahal gue bisa keterima lewat jalur nilai tersebut karena nilai
akhir gue ketika sekolah yaitu 7,7 sudah cukup untuk keterima. But, penyesalan
emang datang belakangan, kalo duluan itu namanya pendaftaran.
Setelah siap gue pun berangkat. Waktu tes dimulai pukul 09.15 pagi, gue
berangkat pukul 08.00. Perjalanan waktu dari rumah gue menuju kampus sekitar 30
menitan. Tetapi hari itu mungkin hari
yang cukup sial bagi gue, ban motor gue ternyata bocor dan terpaksa harus ke
bengkel. Setelah di tambal, gue pun melanjutkan perjalanan, baru berjalan
sekitar 10 menitan gue terjebak macet yang antriannya cukup panjang. Sial
banget. Peristiwa yang gue alami ini seperti peribahasa "sudah jatuh tertimpa
tangga, sudah gebetan lepas mantan duluan punya pacar baru." Perih.
Gue berlari menuju ruangan tes karena telat. Gue berasa lari
seperti Usain Bolt. Tau kan Usain Bolt? Pelari asal Jamaica yang merupakan
pelari tercepat dunia. Dengan ngos-ngosan gue membuka pintu tersebut dengan
kerasnya .
“Maaf pak saya telat” Nampak wajah kelelahan dari gue
setelah berlari
“Iya silahkan masuk” dengan santainya pengawas berkata, walau
tau gue telat lebih dari 15 menit.
Setelah mengisi biodata di kertas ujian, gue pun mulai
mengerjakan soal tes tersebut. Gue perhatikan soal tersebut dengan seksama
disertai wajah yang gembira. Tapi baru membaca beberapa soal wajah gembira gue
langsung berubah menjadi wajah kalo ngeliat mantan lewat dengan gandengan
barunya.
Entah karena faktor
berlari tadi atau gue emang bego, seluruh soal itu gak ada yang bisa gue jawab. Emang yah keahlian orang berbeda-beda, ada yang pinter di ilmu
pengetahuan ada yang pinter di ilmu percintaan yaitu gue.
10 menit berlalu dan gue masih belum mengerjakan seluruh
soal tersebut, soal itu berjumlah 90 dari seluruh mata pelajaran dan terdapat
tambahan yaitu soal logika. Gue melihat
para peserta tes di ruangan tersebut, dari raut muka mereka terlihat santai
ketika mengerjakan, karena gak mau kalah sama mereka akhirnya gue mencoba untuk
mengerjakan soal dengan sebisanya, soal yang paling pertama gue coba kerjakan
adalah bahasa indonesia dan hanya soal
bahasa Indonesia yang gue jawab lengkap seluruh soalnya.
Waktu tes telah berakhir. Waktu berlalu begitu lambat,
setengah jam berasa setahun. Gue pun telah selesai mengerjakan soal
tersebut walau gue menjawab 45 soal saja
atau setengah dari seluruh soal tersebut, hanya soal matematika dan bahasa
inggris yang gak gue kerjakan. Dari dulu musuh terberat gue emang matematika,
matematika udah gue anggap mantan yang pergi meninggalkan kita karena cowok lain.
GAK PENTING!!
“Uh, bau apa ini” ucap gue ketika ingin mengumpul jawaban ke
pengawas.
Tiba-tiba pengawas berteriak histeris
“Kebakaran kebakaran!! Cempat ambil air” ucap pengawas dengan suara yang parau
Ternyata tanpa di sadari telah mengepul asap hitam dari atas
kepala gue karena terlalu keras berpikir.
=====
Setelah keluar dari ruang ujian, gue langsung menelpon.
“Sayang, kamu dimana? Udah makan? Aku baru selesai tes nih,
soalnya gampang banget tauk” ucap gue dengan sombongnya
“Maaf pulsa anda anda tidak mencukupi untuk melakukan
pangggilan ini” ucap pacar gue di ujung
telpon dengan suara yang berbeda
“Sayang, suara kamu berubah yah” balas gue lagi
“Eh anjing, ini operator. pulsa lu gak ada untuk nelpon”
balasnya dengan suara tinggi
“Halo sayang, sayang? Halo? Halo?” balas gue
Telpon gue ternyata di matikan. Dengan wajah bingung gue
berucap dalam hati “Emang yang cewek susah di mengerti”
=====
Seminggu telah berlalu, pengumuman tes pun diumumkan. Karena
jaman ini telah modern maka pengumuman
tes di umumkan lewat internet. Karena berhubung paket hape gue mati maka bergegas lah gue ke warnet untuk melihat
hasil pengumuman tersebut.
Setelah hasil pengumuman keluar tenyata gue gak lulus tes
tersebut, dengan wajah yang cukup sedih dan takut gue pun pulang dan
memberitahukan orangtua gue. Sebenarnya gue gak apa-apa ketika mengetahui kalo
gak lulus, itu karena gue emang gak serius ketika menghadapi tes tersebut. Pada
malam sebelum tes tersebut gue pun gak ada belajar malah main game. Tetapi yang
menjadi beban yah ekspektasi dari orangtua terhadap gue.
“Assalamualaikum, aku pulang” ucap gue dengan pelan
“Gimana, udah keluar hasilnya? Lulus ngak?” ucap mama gue
dengan penuh semangat yang saat itu sedang duduk di ruang tamu bersama nenek
gue
Kebetulan warnet yang gue datangi itu dekat dengan rumah
nenek gue jadi kami sekeluarga pergi bersama. Gue kewarnet, adik dan mama gue
ngobrol dengan nenek, sedangkan bapak gue lagi nongrong bersama temannya di
warung kopi.
“Anu mah, aku gak lulus” ucap gue dengan suara kecil
Mama gue hanya diam dan tersenyum setelah mendengarnya
tetapi gue tau diamnya seorang wanita itu pasti ada maksudnya. Dalamnya hatinya
pasti menangis dan merasa sedih pula.
Tiba-tiba bapak gue datang dengan suara nyaringnya berkata
“Gimana? Lulus kah? Gak lulus yah? Udah bapak bilang apa
juga mending kamu masuk poltek aja pasti keterima”
Bapak gue emang lebih setuju gue untuk masuk ke Politeknik Negri Samarinda Jurusan mesin, karena menurut dia kalo menjadi mekanik hidupnya
kelak lebih terjamin. Tapi dari awal gue emang gak tertarik sama mesin, udah
cukup ketika smk aja gue jurusan mesin kalo kuliah jangan lagi. Karena ini hidup
gue, gue yang nentuin mau dikemanakan tujuan masa depan gue. Orangtua hanya
membimbing kita untuk mencapainya.
“Tapi kan masih ada tes gelombang ketiga, aku pasti lulus
kok itu” ucap gue dengan lancang membalas omongan bapak gue itu
=====
Akhirnya pendaftaran gelombang ketiga telah dibuka, gue pun
mendaftar. Tidak seperti gelombang kedua, kali ini gue sangat serius
menghadapinya. Gue gak mau mengecewakan orangtua gue khususnya mama gue.
Pokoknya gue harus lulus. Maka dari itu gue pun rajin belajar dari awal daftar
tes sampe malam sebelum tes. Gak percaya yah gue bisa belajar? Puluhan buku
udah gue baca untuk menghadapi tes tersebut walau itu semuanya komik. Pokoknya
gue belajar deh. Percaya aja yah. Hehe
=====
“Oke silahkan dimulai, jangan lupa isi biodatanya” ucap
pengawas gue
Kali ini gue gak telat lagi datangnya malahan gue yang
pertama datang. Soal ujian kali lumayan cukup berbeda dengan tes yang lalu,
soalnya lebih gampang menurut gue. Entah soalnya emang betulan lebih gampang
atau faktor karena gue sudah belajar. Entahlah. Gue mengerjakan seluruh soal
yang diberikan dan tak terasa waktu ujian berakhir. Gue bernapas lega karena
kali ini gue yakin bakal lolos tes.
Seminggu berlalu hasil tes pun diumumkan, seperti biasa
pengumumannya via online dan syukur gue akhirnya keterima di program studi yang
gue mau yaitu ilmu komunikasi.
Bagi gue dengan keterimanya ini menunjukkan bahwa dengan
benar-benar berusaha barulah keinginan kita dapat tercapai. Gue memaklumi
mengapa ketika tes pertama tidak lolos itu karena memang gue gak berusaha
dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkannya.
Terima kasih telah menyempatkan untuk membaca. Thanks.
