Senin, 26 Februari 2018

IDNTimes Review : Jangan Hanya Singgah, Sebab Ini Rumah

Pernakah kalian datang ke suatu tempat tapi merasa tak betah dan ingin segera pergi? Pernakah kalian membuka sebuah situs tapi merasa tak nyaman dan asing? Hal itu mungkin karena tidak cocok dengan pribadi kalian, bukan selera kalian atau mungkin bukan rumah kalian.

Tinggal. Menetap. Kalau mendengar kata itu pasti akan selalu berhubungan dengan rumah. Rumah bagi saya bukan hanya sebuah bangunan tempat kita tidur, melindungi dari panas matahari dan dinginnya malam. Rumah bagi saya adalah tempat berbagi segala cerita, tempat menyandarkan lelah, tempat yang selalu membuat suasana hati kita jadi lebih baik dari sebelumnya. Maka dari itu, IDN Times adalah rumah saya di dunia maya.
Gambar terkait
"RUMAH"

Masih teringat 7 bulan lalu, cuaca yang cukup buruk di Samarinda membuat saya hanya berbaring di kamar seharian. Hujan deras sejak pagi hari itu membuat saya malas berkuliah dan melewatkan dua matakuliah. Kegiatan saya hanya men-scroll timeline instagram untuk melihat hal baru apalagi yang terjadi kepada teman-teman saya, hal apalagi yang mereka drama-kan, hal apalagi yang mereka pamerkan dan hal-hal lainnya. Hal membosankan itu pun berlanjut dengan secara tak sengaja melihat foto yang membahas drama korea. Bahasan itu mengenai tanda-tanda jika telah kecanduan drama korea akut. Saya selaku penonton drama korea pun tertarik, sehingga harus membuka situsnya untuk membaca . Situs itu adalah www.idntimes.com .

Artikel yang pertama kali saya baca di IDN Times
Klik ini jika ingin ikut membacanya


Bermula dari kejadian itulah saya mulai sering membuka dan membaca di IDN Times. Tulisan yang dimuatnya pun dikemas secara ringan dan santai, tata bahasa yang digunakan juga bahasa anak muda sekali. Bahkan untuk berita politik terkait pilkada bisa disampaikan dengan lembut, menarik, dan mudah dicerna khususnya untuk anak muda yang tak melek politik.
Yuk Melek Politik, Klik Untuk Baca


Bagi kalian pesinggah yang sedang mencari jadi diri, IDN Times adalah tempatnya. Rumah untuk tumbuh dan berkembang. Banyak sekali konten yang ada di IDN Times, yang pastinya akan mewakili suara kalian atau merepresentasikannya. Sesuai dengan tagline-nya The Voice of Millenials and Gen Z.



IDN Times memiliki 18 rubrik atau konten yang tiap hari akan selalu update. Bagi saya rubrik HYPE yang membuat saya selalu kembali ke IDN Times. IDN Times memang mengusung artikel unik dan viral yang memang sesuai dengan pribadi saya. IDN Times bisa dibilang menjadi situs kesukaan menggantikan nyunyu.com yang telah hilang entah kemana. Dari artikel-artikel IDN Times saya sadar bahwa dari hal di sekitar kita saja, apapun itu, bisa dijadikan sebuah tulisan yang menarik. Dari kegelisahan dan keheranan kita terhadap suatu hal, bisa dijadikan tulisan dengan sudut pandang diri kita sendiri. Hal ini terjadi karena IDN Times memberikan kesempatan bagi kontributor untuk menulis di IDN Times atau disebut IDN Times Community.


Terakhir, IDN Times telah hadir memberikan warna baru bagi pembaca online. Tulisan yang menghibur, visual/tampilan yang menarik tetapi tetap berisi dan cerdas seharunya bisa ditiru oleh media-media online lainnya. IDN Times bisa menjadi tolak ukur bagaimana sebuah media yang ditujukan untuk anak muda berkembang dan menjad nomer satu.

IDN Times ada sebab, para generasi muda ada. IDN Times lahir sebab tau, kita membutuhkannya. IDN Times adalah rumah bagi kita semua. Rumahnya generasi muda, generasi cerdas, generasi sukses.


Sabtu, 24 Februari 2018

#EnergenPSNCompetition 2018 : Sehat dan Berprestasi Dengan Energen

Waktu adalah segalanya. Waktu sangat penting bagi kita. Sebab adanya waktu kita bisa hidup. Menyepelekan waktu sama saja menyepelekan hidup.



Adakah yang tidak ingin sehat? Adakah orang yang ingin selalu sakit? Tentu tidak. Sebab sehat adalah keinginan semua orang. Tubuh dan jiwa yang sehat akan mendatangkan banyak sekali kebaikan, berprestasi salah satunya. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk menjadi sehat dan berpretasi, hal-hal yang dianggap sepele pun bisa berpengaruh besar mewujudkan hal itu.  Salah satunya tak melewatkan waktu sarapan.

Penting. Perlu. Harus. 3 kata yang tepat untuk menggambarkan sarapan. Karena sarapan merupakan pangkal dari nutrisi tubuh manusia. Sarapan diperlukan untuk mengembalikan energi kita yang hilang serta sumber energi untuk memulai aktivitas setiap hari. Sarapan yang baik adalah sarapan yang dilakukan begitu bangun pagi hingga jam sembilan pagi. Sebab waktu itulah peredaran darah kita masih baik dan belum terjadi perubahan metabolisme pada tubuh.

Sarapan yang baik tentu saja menjadi sarapan yang sehat, dengan gizi seimbang tanpa kalori yang berlebihan atau sekitar 300-500 kilokalori. Sarapan baik juga harus memiliki sejumlah nutrisi penting, antara lain Karbohidrat, Vitamin, Protein, Mineral, Kalsium dan Lemak baik. Selain membuat tubuh berenergi, mengonsumsi menu sarapan sehat dapat memberikan efek positif lainnya untuk kesehatan, seperti mengontrol berat badan, meningkatkan konsentrasi dan kinerja, serta mencegah meningkatnya kadar kolesterol.

Pentingnya sarapan ini seharunya menjadi perhatian semua orang. Tetapi masih banyak yang menyepelekan waktu sarapan. Hingga kini, sudah seberapa sering kita telah melewatkan waktu sarapan? Seberapa sering kita menganggap sarapan tidak penting? Banyak alasan kita melewatkan sarapan, entah karena terlambat bangun, terburu-buru menuju sekolah atau kantor, maupun malas bangun lebih awal untuk menyiapkan makanan.

Oleh karena itu Energen hadir untuk membantu masyarakat Indonesia yang susah sekali sarapan karena terkendala waktu. Pembuatan Energen yang cepat dan tak memakan banyak waktu menjadikannya sangat praktis untuk sarapan. Kandungan dari segelas Energen pun telah mencakup kebutuhan nutrisi tubuh, yaitu terdiri dari komposisi Susu, Sereal, Telur, Mineral dan Sigmavit (vitamin A, B1, B2, B6, B12, D, E, Kalsium)

Gambar terkait


Perlunya sarapan pagi ini harus diajarkan kepada anak-anak yang sedang bersekolah. Mengingat bahayanya jika melewatkan waktu sarapan di pagi hari. Bahaya itu, antara lain :

  1. Saat perut kosong, anak sulit konsentrasi ketika belajar dalam kelas
  2. Anak akan lemas, mengantuk, letih dan lesu. Sehingga akan menggangu proses berpikir
  3. Jika melewatkan sarapan akan terkena penyakit maag
Maka dari itu, Energen menjadi solusi sarapan yang praktis karena dapat disajikan dengan cepat dan rasanya enak. Dengan mengkonsumsi Energen, berarti memberi asupan gizi yang seimbang untuk membantu konsentrasi belajar, stamina, dan gizi bagi anak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.

Sebuah keHarusan bagi anak-anak Indonesia untuk tidak melewatkan waktu sarapannya, mengingat fakta  bahwa 7 dari 10 anak Indonesia kekurangan gizi sarapan. Hal ini pun telah menjadi komitmen Mayora Nutrition melalui Energen, untuk mengedukasi tentang sarapan sehat bagi seluruh masyarakat di Indonesia, terutama anak-anak usia sekolah dasar bagi kemajuan prestasi anak-anak Indonesia. Kampanye Sarapan Sehat Sebelum Jam Sembilan yang dilakukan Energen ini semoga dapat membantu masyarakat Indonesia untuk lebih perhatian terhadap pentingnya sarapan dan ajang perbaikan gizi anak Indonesia.


Maka dari itu, Jangan lagi lewatkan waktu sarapan. Sebab ada Energen. Minum Makanan Bergizi.

Jumat, 08 April 2016

Komisi "Penyiaran" atau "Penyensoran" Indonesia ?





















Akhir-akhir ini sensor/blur pada tayangan televisi oleh KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) mengundang banyak kontroversi. Meski diakui tujuan dari Komisi Penyiaran Indonesia sangat baik dan tentunya mulia, yakni untuk menghindarkan kekerasan pada anak-anak atau tontonan yang tidak baik menurut KPI di era yang semakin maju ini.
  http://www.radiopelitakasih.com/media/k2/items/cache/0fcccca5b510e5bb86a94045046d252d_XL.jpg

Tetapi yang menjadi masalah terhadap penyensoran oleh KPI ini adalah sensor/blur yang tidak pada tempatnya. KPI seolah sangat ketat mengawasi tayangan kartun anak-anak, tak jarang banyak scene terpotong tidak jelas hanya karena alasan yang tak cukup kuat.
 
 
Hal ini dapat dilihat dalam sebuah episode kartun Doraemon yang ditayangkan setiap minggu pagi, ada adegan karakter Shizuka yang mengenakan pakaian renang. Akhirnya, gambar Shizuka pun kena sensor dengan cara di-blur. Tak hanya karakter Shizuka yang divonis mengandung konten pornografi, karakter Sandi si tupai tokoh dalam kartun Spongebob Square Pants-pun kena sensor dengan dalih serupa. Dan yang paling menggelikan adalah ketika KPI menyensor seekor sapi yang sedang diperah susunya pada sebuah acara di stasiun televisi SCTV. 



Entah ada apa gerangan yang terjadi, KPI seolah-seolah menjadi sosok lembaga yang berjiwa pahlawan (bukan bertopeng) yang menyelamatkan berbagai moral anak bangsa. Berbagai tayangan yang tidak layak tonton oleh anak dibawah umur, dibuat nge-blur.


KPI memang memiliki kewenangan untuk melakukan quality control (QC) berupa editing atau pengaburan jika ada yang dianggap tak layak tayang. Adapun kriteria gambar yang disensor di antaranya jika memperlihatkan bagian tubuh yang tidak pantas menurut anggapan KPI. Entah belahan dada, paha, bokong, kepala, pundak, lutut kaki, lutut kaki (Loh kok nyanyi?)
 
Tapi kebijakan KPI melakukan sensor yang konon demi melindungi anak-anak dari konten pornografi dan kekerasan terkesan berlebihan dan merendahkan nalar penonton Indonesia. Seolah penonton di Indonesia bodoh sekali tak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik. Sangat melawan nalar karena menganggap kartun bisa menimbulkan nafsu bagi anak-anak bawah umur.

 
Sebenarnya tujuan dari KPI menyensor adalah bagus, untuk menciptakan sifat dan mental yang baik di masyarakat. Namun menurut saya perlu di kaji ulang lagi mana yang sebenarnya di perlukan dan mana yang berlebihan. Kasihan kami tidak bisa menikmati tayangan yang menarik lagi di layar kaca. Sebaliknya tayangan-tayangan di sinetron-sinetron FTV yang merusak moral justru di biarkan dan tidak menjadi target sensor. Banyak komedi garing yang menampilkan lawakan tidak mendidik juga di biarkan.

 

Yah, itulah kenyataan di Indonesia. Nalar atau tidak di mata publik, sebuah kebijakan harus tetap berjalan. Suara publik dianggap sebagai angin lalu. Biarpun kita merasakan sudah ada yang tidak beres, tampaknya KPI tidak bisa berbuat banyak selain hanya melarang ini dan itu.