Akhir-akhir
ini sensor/blur pada tayangan televisi
oleh KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) mengundang banyak kontroversi. Meski
diakui tujuan dari Komisi Penyiaran Indonesia sangat baik dan tentunya mulia, yakni
untuk menghindarkan kekerasan pada anak-anak atau tontonan yang tidak baik
menurut KPI di era yang semakin maju ini.
Tetapi yang menjadi masalah terhadap
penyensoran oleh KPI ini adalah sensor/blur yang tidak pada tempatnya. KPI
seolah sangat ketat mengawasi tayangan kartun anak-anak, tak jarang banyak
scene terpotong tidak jelas hanya karena alasan yang tak cukup kuat.
Hal ini dapat dilihat dalam sebuah
episode kartun Doraemon yang ditayangkan setiap minggu pagi, ada adegan
karakter Shizuka yang mengenakan pakaian renang. Akhirnya, gambar Shizuka pun
kena sensor dengan cara di-blur. Tak hanya karakter Shizuka yang divonis
mengandung konten pornografi, karakter Sandi si tupai tokoh dalam kartun
Spongebob Square Pants-pun kena sensor dengan dalih serupa. Dan yang paling
menggelikan adalah ketika KPI menyensor seekor sapi yang sedang diperah susunya
pada sebuah acara di stasiun televisi SCTV.
Entah ada apa gerangan yang terjadi,
KPI seolah-seolah menjadi sosok lembaga yang berjiwa pahlawan (bukan bertopeng)
yang menyelamatkan berbagai moral anak bangsa. Berbagai tayangan yang tidak
layak tonton oleh anak dibawah umur, dibuat nge-blur.
KPI
memang memiliki kewenangan untuk melakukan quality control (QC) berupa editing
atau pengaburan jika ada yang dianggap tak layak tayang. Adapun kriteria gambar
yang disensor di antaranya jika memperlihatkan bagian tubuh yang tidak pantas
menurut anggapan KPI. Entah belahan dada, paha, bokong, kepala, pundak, lutut
kaki, lutut kaki (Loh kok nyanyi?)
Tapi kebijakan KPI melakukan sensor
yang konon demi melindungi anak-anak dari konten pornografi dan kekerasan
terkesan berlebihan dan merendahkan nalar penonton Indonesia. Seolah penonton
di Indonesia bodoh sekali tak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang
tidak baik. Sangat melawan nalar karena menganggap kartun bisa menimbulkan
nafsu bagi anak-anak bawah umur.
Sebenarnya tujuan dari KPI menyensor
adalah bagus, untuk menciptakan sifat dan mental yang baik di masyarakat. Namun
menurut saya perlu di kaji ulang lagi mana yang sebenarnya di perlukan dan mana
yang berlebihan. Kasihan kami tidak bisa menikmati tayangan yang menarik lagi
di layar kaca. Sebaliknya tayangan-tayangan di sinetron-sinetron FTV yang
merusak moral justru di biarkan dan tidak menjadi target sensor. Banyak komedi
garing yang menampilkan lawakan tidak mendidik juga di biarkan.
Yah, itulah kenyataan di Indonesia.
Nalar atau tidak di mata publik, sebuah kebijakan harus tetap berjalan. Suara
publik dianggap sebagai angin lalu. Biarpun kita merasakan sudah ada yang tidak
beres, tampaknya KPI tidak bisa berbuat banyak selain hanya melarang ini dan
itu.